Arahku Semakin Jelas

Prestasi Ragil

ARAHKU SEMAKIN JELAS

Oleh: Suherman

 

Hari kami tanggal 24 Oktober 2002 lahirlah seorang anak perempuan dari keluarga sederhana dengan pertolongan bidan secara normal yang diberi nama: Ragil Silika Wati. Tidak ada tanda-tanda kekurangan baik secara fisik atau hal-hal yang tidak sesuai, semuanya dalam kondisi baik. Sesuai dengan perkembangan anak pada usia 2 tahun masih belum ada tanda-tanda yang mencolok, anak mulai berjalan pada usia 14 bulan dan sudah mulai berbicara “Bapak.. Mama..”. pengasuhan dititipkan pada pengasuh dari pukul 06.30 s.d. 13.00 karena bapak, ibu, dan kakaknya mempunyai kegiatan masing-masing yang tidak memungkinkan untuk mengasuh. Untuk segi kesehatan kami selalu memperhatikan, dengan rajin dating ke Posyandu setiap bulannya serta datang ke bidan apabila anak mengalami gangguan kesehatan.

 

Setelah Ragil berusia 2 tahun 3 bulan Ragil menjadi tidak bisa berbicara, kepalanya selalu bergerak kiri dan kanan tetapi Ragil sehat dan berkembang seperti anak  sebaya pada umumnya. Pada usia 4 tahun anak masih belum bisa berbicara, lalu bidan menyarankan supaya anak diperiksa lebih lanjut ke klinik Suryakanti.

Tanggal 17 september 2007 saat itu usia Ragil 4 tahun 11 bulan pertama kali dibawa ke klinik Suryakanti dengan keluhan anak belum bisa berbicara. Setelah melalui pemeriksaan oleh dr. Yulia Suherlina disarankan untuk mengikuti terapi bicara dan okupasi terapi, dikarenakan orang tua belum siap maka hanya beberapa kali saja Ragil mengikuti terapi.

Pada saat usia 6 tahun Ragil masuk TK umum dan terlihat sebagaimana anak-anak seusianya hanya sesekali kurang bisa bersosialisasi dengan teman-temanya dan lebih suka menyendiri. Lanjut setelah TK Ragil masuk ke SD umum, sampai 1 tahun kondisi anak gelisah di dalam kelas dan tidak dapat mengikuti apa yang guru  ajarkan sehingga hasilnya di akhir tahun Ragil tidak naik kelas.

Sebagai orang tua maka kami putuskan untuk kembali terapi ke klinik Suryakanti pada 24 Juni 2010. Kami datang ke klinik Suryakanti pada saat Ragil berusia 7 tahun 8 bulan. Setelah pemeriksaan medis oleh dr. Yulia Suherlina diperoleh hasil bahwa Ragil di diagnosa mengalami Down syndrome dengan penyerta Mental Retardation. Saat itu kami sebagai orang tua seperti tidak percaya dan bingung dengan apa yang mesti dilakukan. Setelah di evaluasi maka Ragil harus mengikuti program terapi antara lain: paedagogi, terapi wicara, dan terapi okupasi.

Seiring dengan dilakukannya program terapi di klinik Suryakanti, Ragil juga bisa mengikuti kegiatan bersekolah di SDLB PUSPPA Suryakanti dan Ragil bisa masuk kelas 2 setelah melalui observasi selama 1 bulan. Ragil memerlukan “penanganan” khusus dan terpadu untuk mengatasi hambatan yang dimilikinya, antara lain dengan kerjasama dari kami sebagai pihak orang tua dengan men-support “pola asuh”, guru pengajar di sekolah, dan klinik untuk masalah terapi juga kesehatan.

Setahun Ragil bersekolah di SDLB Suryakanti masalah yang sangat sulit diatasai antara lain emosi yang sangat tinggi, belum bisa diatur, dan suka menangis kalau tidak sesuai dengan kemauannya (berontak apabila disuruh).

Dengan segala keterbatasan dan pengetahuan yang dimiliki orang tua pada akhirnya orang tua sepakat untuk menerima dengan setulus-tulusnya apapun keadaan Ragil pada saat itu dan sesuai dengan arahan dari dr. Yulia Suherlina, dari bapak kepala sekolah beserta guru-guru bahwasanya harus ada penanganan terpadu antara sekolah, terapi, dan keluarga.

TERAPI

Sampai saat ini Ragil masih aktif  terapi antara lain: terapi okupasi, paedagogi, terapi wicara, dan fisio terapi yang dijalankan secara rutin sampai dengan sekarang.

SEKOLAH

Sampai saat ini Ragil masih bersekolah di SDLB Suryakanti dan kondisi Ragil sekarang tampak semakin mandiri dan lebih disiplin walaupun masih banyak sekali hal-hal yang masih kurang, minimal menuju kea rah yang lebih baik. Ragil bisa berprestasi dalam bidang seni Tari dan pernah tampil di SLB Cicendo, Balai Kota, Hotel Papandayan, UPI, dan di Yayasan Suryakanti.

Saran dari guru SDLB Suryakanti yaitu ibu Momi Mahdaniar pada tahun 2011 agar Ragil diikut sertakan les renang, awalnya untuk membantu terapi. Pertama kali Ragil mencoba renang di kolam renang Manglayang, kebetulan bertemu dengan bapak Riki seorang instruktur renang yang hingga kini melatih Ragil berenang. Setelah mencoba berenang ternyata Ragil mempunyai kelebihan bakat pada olah raga ini, terbukti dengan mencoba 2 kali masuk ke kolam renang Ragil sudah bisa mengambang,  selanjutnya Ragil terus berlatih berenang hingga saat ini. Pada tahun 2012 Ragil mengikuti seleksi perlombaan renang tingkat Kota Madya dan tingkat Provinsi, Alhamdulillah Ragil bisa lolos dan ikut dalam Tim renang JABAR untuk menghadapi Pekan Paralympic Pelajar Nasional (PAPERNAS).

Pada tahun 2013 Ragil mewakili Jawa Barat mengikuti perlombaan di Jakarta dan berhasil menjadi Juara II untuk kelas 50m gaya bebas dan mendapatkan medali perak. Pada Juni 2014 Ragil mewakili Jawa Barat untuk untuk mengikuti perlombaan Pekan Olah Raga Nasional (PORNAS) SOINA di Makassar dan berhasil mendapatkan medali emas sebagai Juara I renang jarak 50m gaya dada dan medali perak sebagai juara II renang jarak 50m gaya bebas.

Pada bulan November 2014 Ragil mewakili Kota Bandung untuk mengikuti perlombaan renang pada Pekan Olah Raga Daerah (PORDA) Jawa Barat di kabupaten Bekasi dan berhasil menyapu bersih semua medali emas pada cabang olah raga renang yang antara lain: Juara I renang  jarak 50m gaya dada, Juara I renang jarak 50m gaya bebas, Juara I renang jarak 100m gaya dada, dan Juara I renang jarak 100m gaya bebas. Sekarang Ragil sudah menjadi seorang atlit “Paralympic” dan mudah-mudahan ke depannya bisa lebih berprestasi untuk jenjang yang lebih tinggi. Di tahun 2015 dan 2016 ada 2 event besar di kota Bandung dan Ragil sudah masuk pembinaan.

POLA ASUH

Ragil diasuh oleh bapak, ibu, dan kakanya dengan “satu kesepakatan”, yang merupakan arahan dari kepala sekolah beserta guru-guru, dokter, dan juga terapis di Suryakanti. Maka dapat disimpulkan sebagai dasar utamanya keluarga harus benar-benar menerima dengan tulus dan ikhlas bagaimanapun kondisi anaknya. Dengan “satu komando” semua anggota keluarga harus sportif dan taat dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama berdasarkan perannya masing-masing.

Ayah:

Sesuai kesepakat bahwa posisi ayah sebagai teman/sahabat bagi Ragil, sehingga komunikasi berjalan dua arah, bercanda, bermain olah raga, mengantar sekolah, dan menemani berenang.

Ibu:

Dalam hal ini posisi ibu kearah hal-hal kedisiplinan seperti pakaian, makan, mandi, kebersihan, keperluan sekolah, make up, bersih-bersih rumah, melipat jemuran yang sudah kering, dan hal-hal kewanitaan.

Kakak:

Untuk peran kakak lebih banyak ke bidang akademik seperti belajar mengenal huruf, angka, membimbing mengerjakan PR, memperkenalkan gadget, dan mengajarkan menggunakan laptop yang berhubungan dengan teknologi.

Setelah aturan itu kami terapkan secara ketat dan disiplin dengan masing-masing perannya maka sekarang Ragil mulai terbentuk kemandiriannya, lebih disiplin, bertanggung jawab atas apa yang menjadi kewajibannya, walaupun masih terus menerus memerlukan bimbingan dan binaan. Sekarang Ragil sudah bisa memposisikan dirinya untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhannya secara mandiri.

Pertama kali diterapkan aturan reaksi yang ditunjukan oleh Ragil yaitu memberontak dan semaunya sendiri, tetapi dengan kesabaran, ketelatenan, serta keihklasan dari semua anggota keluarga yang secara disiplin menerapkan semua aturan yang disaranakan baik oleh sekolah, terapis, dan juga dokter Alhamdulillah Ragil sekarang menjadi atlit yang berprestasi menjuarai “Paralympic” di tingkat nasional.

Untuk ke depannya bidang kemandirian, percaya diri, serta wawasan Ragil kami selaku keluarga selalu berusaha memberikan yang terbaik agar Ragil siap untuk terjun ke lingkungan masyarakat. Tidak lupa kami selalu berdoa dan mempasrahkan diri kepada Alloh SWT yang menentukan segala-galanya dan semoga Ragil menjadi yang terbaik. Amiin.

Saya dan keluarga sangat sadar bahwa Ragil tidak bisa di tuntut secara akademik dikarenakan keterbatasannya. Maka kami mencari sekolah yang tidak kaku, lebih fleksibel, dimana adanya kebijaksanaan yang disesuiakan dengan kemampuan peserta didik di sekolah. Untuk itu Ragil sudah diterima di sekolah inklusi “Miftahul Huda”. Sekarang arah Ragil sudah menjadi jelas untuk menyongsong masa depan dan menjadi yang terbaik dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.

Ayahanda Ragil


Suherman.